LANDASAN PENDIDIKAN DAN PENERAPANNYA by Sahnaz Intan DKK

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Istilah pendidikan merupakan istilah yang tidak asing lagi di telinga masyarakat. Pendidikan merupakan kebutuhan, hak, serta kewajiban bagi setiap individu. Melalui pendidikan banyak hal yang dapat diperoleh. Pendidikan tak harus secara formal dan resmi di sekolah. Pendidikan dapat dilakukan dan diperoleh dimanapun, kapanpun, dari siapapun, oleh siapapun, dan bagaimanapun.

Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik yang bertolak dari sejumlah landasan serta mengindahkan sejumlah asas – asas tertentu (Umar Tirtarahardja, S. L. La Sulo, 2005: 81).

Semakin berkembangnya jaman, perkembangan dan perubahan yang senantiasa terjadi, seakan-akan mengharuskan setiap individu untuk mampu menyesuaikan diri dengannya. Salah satu cara untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan tersebut ialah melalui proses pendidikan. Teknologi dan ilmu pengetahuan saat ini bukan lagi menjadi sesuatu yang terpisah. Di banyak kesempatan, bahkan sering kali istilah ilmu pengetahuan dan teknologi ini disandingkan dalam singkatan IPTEK.

Perkembangan pendidikan tak mau kalah dengan perkembangan teknologi saat ini. Banyak lembaga berwenang yang semakin gencar melakukan pembenahan dalam berbagai sektor pendidikan. Mulai dari kurikulum yang sering direvisi dalam pengembangannya, tujuan pendidikan sering mengalami perubahan dalam perumusannya, metode belajar mengajar sering mengalami perubahan dan pengembangan, dan sumber serta fasilitas belajar sering mengalami penambahan.
Entah apa maksud dan tujuan inti dari kegiatan tersebut. Namun rakyat Indonesia pasti mengharapkan yang terbaik dalam hasilnya nanti. Perkembangan tersebut janganlah menjadikan pendidikan Indonesia semakin rumit, sulit, dan tak terjangkau. Karena rakyat Indonesia sudah menunjukkan kepedulian dalam bidang pendidikan, entah ia berasal dari kasta mana, tetapi kondisi pendidikan Indonesia secara fisik telah lebih baik dari era sebelumnya.

Dalam dunia pendidikan memiliki dua hal penting yang memiliki wujud sama tetapi dengan karakteristik dan sifat yang berbeda, yaitu berupa manusia. Dua hal tersebut berupa tenaga pendidik yang merupakan subjek pendidikan, dan peserta didik sebagai objek pendidikan. Mereka berinteraksi dalam satu wadah bernama pendidikan. Interaksi yang terjadi pun berbeda – beda, ada yang bersifat harmonis, terarah, adanya saling kecocokan, tetapi ada juga yang bersifat negatif, dalam artian adanya masalah atau kesenjangan diantara keduanya. Masalah tersebut yang seringkali menguak di kalangan masyarakat luas, dan menjadikan pandangan baru bagi masyarakat yang bersifat kurang baik. Setiap masalah pasti ada sebab dan akibatnya. Selain itu juga diharapkan adanya penyelesaian yang bersifat win-win solution bagi kedua belah pihak yang bertikai.

Segala proses yang terjadi tentunya memiliki landasan, alasan, dan tujuan. Lalu bagaimana dengan pendidikan? Dunia pendidikan pastinya juga memiliki landasan tersendiri dalam mengatur proses pendidikan yang terjadi di suatu Negara. Landasan pendidikan merupakan norma dasar pendidikan yang bersifat imperatif; artinya mengikat dan mengharuskan semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan untuk setia melaksanakan dan mengembangkan berdasarkan landasan pendidikan yang dianut (Superthowi, 2012). Landasan pendidikan akan memberikan pijakan dan arah terhadap pembentukan manusia Indonesia, dan serentak dengan itu, mendukung perkembangan masyarakat, bangsa, dan Negara. (Umar Tirtarahardja, S. L. La Sulo, 2005: 81).

Telah banyak masalah pendidikan yang berujung pada ranah hukum. Entah itu kekerasan fisik, psikis, bahkan akhir-akhir ini marak terjadi kekerasan seksual yang dilakukan oleh tenaga pendidik terhadap peserta didiknya. Tak hanya dalam lembaga pendidikan formal, tetapi juga dalam lembaga pendidikan informal yang banyak beredar bernotabene lembaga pendidikan agama. Lalu bagaimana peran landasan pendidikan dalam hal ini?

Dengan dasar pemikiran itulah, muncul gagasan untuk menulis makalah yang berjudul Landasan Pendidikan yang mencakup pengertian, macam, dan implikasi dari teori-teori landasan pendidikan yang berlaku di Indonesia. Dengan kajian berbagai landasan pendidikan akan dapat membentuk wawasan yang tepat tentang pendidikan. Tidak hanya berupa wawasan, tetapi juga diharapkan dapat diterapkan dalam dunia pendidikan yang akan digelutinya nanti. Setiap orang pada saatnya nanti akan menjadi tenaga pendidik, karena mereka akan menjadi orang tua dan menjadi tenaga pendidik bagi anak-anak dan generasi penerusnya nanti.

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa pengertian dari landasan pendidikan?
  3. Apa saja macam dari landasan pendidikan yang berlaku di Indonesia?
  4. Bagimana bentuk dari landasan pendidikan dalam dunia pendidikan di Indonesia?
  5. Apa fungsi landasan pendidikan Indonesia?
  1. Tujuan Penulisan

Tujuan dari adanya penulisan makalah ini adalah untuk menambah wawasan khususnya bagi penulis, dan bagi pembaca pada umumnya, mengenai informasi tentang :

  1. Pengertian landasan pendidikan
  2. Landasan pendidika yang berlaku di Indonesia
  3. bentuk dari landasan pendidikan dalam dunia pendidikan di Indonesia
  4. Fungsi landasan pendidikan

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Landasan Pendidikan

Landasan berasal dari kata landas yang berarti tumpuan, dasar atau alas, karena itu landasan merupakan tempat bertumpu atau titik tolak atau dasar pijakan. Sementara itu, istilah pendidikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pembelajaran dan pelatihan; proses, cara perbuatan mendidik.

Jadi, dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Landasan Pendidikan adalah dasar atau norma yang berlaku dalam proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui proses pembelajaran dan pelatihan atau pendidikan.

  1. Macam dan Bentuk Landasan Pendidikan Indonesia
  2. Landasan Filosofis
  3. Pengertian Landasan Filosofis

Landasan Filosofis merupakan landasan yang berkaitan dengan makna atau hakikat pendidikan, yang berusaha menelaah masalah-masalah pokok seperti: Apakah pendidikan itu, mengapa pendidikan itu diperlukan, apa yang seharusnya menjadi tujuannya, dan sebagainya.Landasan filosofis adalah landasan yang berdasarkan atau bersifat filsafat (falsafat, falsafah). Kata filsafat (philosophy) bersumber dari bahasaYunani, philein berarti mencintai, dan sophos atau sophis berarti hikmah, arif, atau bijaksana. Filsafat menelaah sesuatu secara radikal, menyeluruh dan konseptual yang menghasilkan konsepsi-kosnsepsi mengenai kehidupan dan dunia. (Prof. Dr. Umar Tirtarahardja., 2008:83).

Dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti alam pikiran atau alam berpikir tentang hakikat pendidikan. Berfilsafat artinya berpikir, namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Tegasnya, filsafat adalah karya akal manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Filsafat merupakan ilmu atau pendekatan yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran tentang pendidikan.

Konsepsi-konsepsi filosofis tentang kehidupan manusia dan dunianya pada umumnya bersumber dari dua faktor, yaitu:

  1. Religi dan etika yang bertumpu pada keyakinan
  2. Ilmu pengetahuan yang mengandalkan penalaran. Filsafat berada dianatara keduanya: Kawasannya seluas religi, namun lebih dekat dengan ilmu pengetahuan karena filsafat timbul dari keraguan dan karena mengandalkan akal manusia (Redja Mudyahardjo, et.al., 1992: 126-134.)

Kajian-kajian yang dilakukan oleh berbagai cabang filsafat (logika, epistemology, etika, dan estetika, metafisika dan lain-lain) akan besar pengaruhnya terhadap pendidikan, karena prinsip-prinsip dan kebenaran-kebenaran hasil kajian tersebut pada umumnya diterapkan dalam bidang pendidikan. Peranan filsafat dalam bidang pendidikan tersebut berkaitan dengan hasil kajian antara lain tentang:

  1. Keberadaan dan kedudukan manusia sebagai mahluk didunia ini, seperti yang disimpulkan sebagai zoon politicon, homo sapiens, animal educandum, dan sebagainya.
  2. Masyarakat dan kebudayaannya.
  3. Keterbatasan manusia sebagai mahluk hidup yang banyak menghadapi tantangan; dan
  4. Perlunya landasan pemikiran dalam pekerjaan pendidikan, utamanya filsafat pendidikan (Wayan Ardhana, 1986: Modul1/9).

Hasil-hasil kajian filsafat tersebut, utamnya tentang konsepsi manusia dan dunianya, sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan. Beberapa aliran filsafat yaitu sebagai berikut:

  1. Naturalisme
  2. Idealisme
  3. Pragmatisme

Naturalisme merupakan aliran filsafat yang menganggap segala kenyataan yang bisa ditangkap oleh panca indera sebagai kebenaran yang sebenarnya. Aliran ini biasa pula diberi nama yang berbeda sesuai dengan variasi penekanan konsepsinya tentang manusia dan dunianya.

Berbeda dengan aliran diatas, Idealisme menegaskan bahwa hakikat kenyataan adalah ide sebagai gagasan kejiwaan. Apa yang dianggap kebenaran realitas hanyalah bayangan atau refleksi dari ide sebagai kebenaran bersifat spiritual atau mental. Ide sebagai gagasan kejiwaan itulah sebagai kebenaran atau nilai sejati yang absolute dan abadi.

Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang mengemukakan bahwa segala sesuatu harus dinilai dari segi nilai kegunaan praktis; dengan kata lain, paham ini menyatakan yang berfaedah itu harus benar, atau ukuran kebenaran didasarkan pda kemanfaatan dari sesuatu itu harus benar. Atau ukuran kebenaran didasarkan kepada kemanfaatan dari sesuatu itu kepada manusia (Abu Hanifah, 1950: 136). John Dewey (dari Redja Mudyahardjo, et. Al., 1992: 144), salah seorang tokoh pragmatisme, mengemukakan bahwa penerapan konsep pragmatisme secara eksperimental melalui lima tahap:

  1. Situasi tak tentu (indeterminate situation), yakni timbulnya situasi ketegangan didalam pengalaman yang perlu dijabarkan secara spesifik.
  2. Diagnosi, yakni mempertajam masalah termasuk perkiraan factor penyebabnya.
  3. Hipotesis, yakni penemuan gagasan yang diperkiarakan dapat mengatasi masalah.
  4. Pengujian hipotesis, yakni pelaksanaan berbagai hipotesis dan membandingkan hasilnya serta implikasinya masing-masing jika dipraktekkan.
  5. Evaluasi, yakni mempertimbangkan hasilnya setelah hipotesis terbaik dilaksanakan. ( Dr. Umar Tirtarahardja, dkk. , 2008:83).

Selanjutnya perlu dikemukakan secara ringkas empat mazhab filsafat pendidikan yang besar pengaruhnya dalam pemikiran dan penyelenggaraan pendidikan. Keempat mazhab filsafat pendidikan itu (Redja Mudyahardjo, et. Al., 1992: 144-150; Wayan Ardhana, 1986 :14-18) adalah:

Esensialisme merupakan mazhab filsafat pendidikan yang menerapkan prinsip idealisme dan realisme secara eklektis. Berdasarkan eklektisisme tersebut tersebut maka esensialisme tersebut menitikberatkan penerapan prinsip idealisme atau realisme dengan tidak meleburkan prinsip-prinsipnya. Filsafat idealisme memberikan dasara tinjauan yang realistic. Matematika yang sangat diutmakan idealisme, juga penting artinya bagi filsafat realism, karena matematika adalah alat menghitung penjumlahan dari apa-apa yang riil, materiil dan nyata.

  1. Perenialisme

Ada persama antara perenialisme dan esensialisme, yakni keduanya membela kurikulum tradisional yang berpusat pada mata pelajaran yang poko-pokok (subject centered). Perbedaannya ialah perenialisme menekankan keabadian teori kehikamatan, yaitu:

  1. Pengetahuan yang benar (truth)
  2. Keindahan (beauty)
  3. Kecintaan kepada kebaikan (goodness)

Oleh karena itu dinamakan perenialisme karena kurikulumnya berisi materi yang konstan atau perennial. Prinsip pendidikan antaralain:

  1. Konsep pendidikan itu bersifat abadi, karena hakikat manusia tak pernah berubah.
  2. Inti pendidikan haruslah mengembangkan kekhususan mahluk manusia yang unik, yaitu kemampuan berpikir.
  3. Tujuan belajar ialah mengenal kebenaran abadi dan universal.
  4. Pendidikan merupakan persiapan bagi kehidupan sebenarnya.
  5. Kebenaran abadi itu diajarkan melalui pelajaran-pelajaran dasar (basic subjects)
  6. Pragmatisme dan Progresivisme

Pragmatisme adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan progresivisme yang menentang pendidikan tradisional.

Progresivisme yaitu perubahan untuk maju.Manusia akan mengalami
perkembangan apabila berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya berdasarkan pemikiran.

Progresivisme atau gerakan pendidikan progresif mengembangkan teori pendidikan yang mendasarkan diri pada beberapa prinsip, antara lain sebagai berikut:

  1. Anak harus bebas untuk dapat berkembang secara wajar
  2. Pengalaman langsung merupakan cara terbaik untuk merangsang minat belajar.
  3. Guru harus menjadi seorang peneliti dan pembimbing kegiatan belajar.
  4. Sekolah progresif harus merupakan sebuah laboratorium untuk melakukan reformasi pedagogis dan ekperimentasi.
  5. Rekonstruksionisme

Rekonstruksionalisme adalah suatu kelanjutan yang logis dari cara berpikir progresif dalam pendidikan. Individu tidak hanya belajar tentang pengalaman-pengalaman-pengalaman kemasyarakatan masa kini disekolah, tapi haruslah memelopori masyarakat kearah masyarakatbaru yang diinginkan.

Dan dalam pengertian lain. Rekonstruksionisme adalah mazhab filsafat pendidikan yang menempatkan sekolah/lembaga pendidikan sebagai pelopor perubahan masyarakat.

  1. Pancasila Sebagai Landasan fFlosofis Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)

Pasal 2 UU RI No.2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan UUD 1945. sedangkan Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4 menegaskan pula bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar negara Indonesia. Pancasila merupakan  sumber dari segala gagasan mengenai wujud manusia sebagai individu atau sosial yang dianggap baik., sumber dari segala sumber yang dijadikan sebagai acuan, keputusan dan tindakan dalam pendidikan.

Dalam ketetapan MPR RI diatas memberi petunjuk-petunjuk nyata dan jelas wujud pengamalan kelima sila dari Pancasila. Bagi bidang pendidikan, hal itu sangat penting karena akan terdapat  kepastian nilai yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan pendidikan.

  1. Landasan Sosialis

Sosiologi lahir dalam abad ke-19 di Eropa, karena pergeseran pandangan tentang masyarakat, sebagai ilmu empiris yang memperoleh pijakan yang kukuh. Sosiologi sebagai ilmu yang otonom dapat lahir karena terlepas dari pengaruh filsafat. Nama sosiologi untuk pertama kali digunakan oleh August comte (1798-1857) pada tahun 1839, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan positif yang mempelajari masyarakat. Sosiologi mempelajari berbagai tindakan sosial  yang  menjelma dalam realitas sosial.

  1. Pengertian tentang Landasan Sosiologis

Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu, bahkan dua generasi yang memungkinkan generasi muda mengembangkan diri. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi di lembaga sekolah yang sengja dibentuk oleh masyarskat. Dengan meningkatkan perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan tersebut, maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosologi pendidikan meliputi empat bidang, yaitu :

  • Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain, yang mempelajari tentang :
  1. Fungsi pendidikan dalam kebudayaan.
  2. Hubungan sistem pendidikan dan proses control sosial dan sistem kekuasaan.
  3. Fungsi sistem pendidikan dalam memelihara dan medorong proses sosial dan perubahan kebudayaan.
  4. Hubungan pendidikan dengan kelas sosial atau sistem status.
  5. Fungsionalisasi sistem pendidikan formal dalam hubungannya dengan ras, kebudayaan, atau kelompok-kelompok dalam masyarakat.
  • Hubungan kemanusiaan di sekolah yang meliputi :
  1. Sifat kebudayaan sekolah khususnya yang berada dengan kebudayaan di luar sekolah.
  2. Pola interaksi sosial atau struktur masyarakat sekolah.
  • Pengaruh sekolah pada prilaku anggotanya, yang mempelajari :
  1. Peranan seorang guru.
  2. Sifat kepribadian guru.
  3. Pengaruh kepribadian guru terhadap tingkah laku siswa.
  4. Fungsi sekolah dalam sosialisasi anak-anak.
  • Sekolah dalam komunitas, yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya. Yang meliputi :
  1. Pelukisan tentang komunitas seperti tampak dalam pengaruhnya terhadap organisasi sekolah.
  2. Analisis tentang proses pendidikan seperti tampak terjadi pada sistem sosial komunitas kaum tidak terpelajar.
  3. Hubungan antara sekolah dan komunitas dalam fungsi kependidikannya.
  4. Faktor-faktor demografi dan ekologi dalam hubungannya dengan organisasi sekolah.

Keempat bidang yang dipelajari tersebut sangat esensial sebagai sarana untuk memahami sistem pendidikan dalam kaitannyadengan keseluruhan hidup masyarakat.

Kajian sosiologi tentang pendidikan pada prinsipnya mencakup semua jalur pendidikan. Ditinjau dari sosiologi, pendidikan keluarga sangatlah penting, karena keluarga merupakan lembaga sosial yang pertama bagi setiap manusia. Proses sosialisasi akan dimulai dari keluarga, dimana anak mulai mengembangkan diri. Dalam UU RI No. 2 Tahun 1989 Pasal 10 Ayat 4 dinyataka bahwa “Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan. Dalam keluarga dapat ditanamkan nilai dan sikap yang dapat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya. Perubahan fungsi keluarga, pola hubungan orang tua dan anak di dalam keluarga. Komposisi keanggotaan dalam keluarga, keberadaan orang tua dalam keluarga, dan perbedaan kelas sosial diperkirakan tetap berpengaruh terhadap perkembangan anak.

Selanjutnya, di samping sekolah dan keluarga, proses pendidikan juga di pengaruhi oleh kelompok sosial dalam masyarakat yang di sebut kelompok sebaya. Kelompok sebaya ini juga merupakan agen sosialisasi yang mempunyai pengaruh kuat searah dengan bertambahnya usia anak. Kelompok sebaya terdiri dari sejumlah individu yang rata-rata usianya hamper sama yang mempunyai kepentingan tertentu yang besifat sangat sementara. Kelompok sebaya bukanlah merupakan lembaga yang bersifat tetap sebagaimana keluarga. Memang kelompok ini mempunyai semacam organisasi, tetapi peranan itu sering berubah-ubah. Anka-anak selalu pindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya sejalan dengan bertambahnya usia anak yang bersangkutan. Akan tetapi kelompok sebaya dapat menciptakan solidaritas yang sangat kuat di antara anggota kelompoknya. Kelompok sebaya juga memberikan model, memberikan identitas, memberikan jalan jpada anak untuk lebih independen dan menumbuhkan sikap kerja sama serta memberikan dukungan (sport).

  1. Masyarakat Indonesia sebagai Landasan Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)

Masyarakat dalam arti luas umumnya lebih abstrak apabila dibandingkan dengan masyarakat dalam arti sempit. Masyarakat  sebagai kesatuan hidup memiliki cirri utama antara lain :

  • Ada interaksi antara warga-warganya.
  • Pola tingkah laku warganya diatur oleh adat istiadat, norma-norma, hokum, dan aturan-aturan yang khas.
  • Ada rasa identitas kuat yang mengikat pada warganya.

Masyarakat Indonesia mempunyai perjalanan sejarah yang panjang. Melalui perjalanan yang panjang, masyarakat yang bhineka akhirnya mencapai satu kesatuan politik untuk mendirikan satu negara serta mewujudkan satu masyarakat Indonesia sebagai yang bhi eka tunggal ika. Sampai saat ini masyarakt Indonesia masih ditandai oleh dua cirri yang unik, yakni :

  • Secara horizontal ditandai oleh adanya kesatuan-kesatuan sosial atau komunitas berdasarkan perbedaan suku, agama, adat istiadat, dan kedaerahan.
  • Secara vertikal ditandai oleh adanya perbedaan pola kehidupan antara lapisan atas, menengah, dan lapisan rendah.

Pada zaman penjajahan sifat dasar masyarakat Indonesia yang menonjol adalah :

  • Terjadi segmentasi ke dalam bentuk kelompok sosial.
  • Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi.
  • Seringkali anggota masyarakat atau kelompok tidak mengembangkan konsensus diantara mereka terhadap nilai-nilai yang bersifat mendasar.
  • Di antara kelompok , relative seringkali mengalami konflik-konflik.
  • Terdapat saling ketergantungan di bidang ekonomi.
  • Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok sosial yang lain.
  • Secara relatif integrasi sosial sukar dapat tumbuh.
  1. Landasan Kultural

Pendidikan selalu terkait dengan manusia, sedang setiap manusia selalu menjadi anggota masyarakat dan pendukung kebudayaan tertentu. Oleh karena itu dalam UU RI No. 2 Tahun 1989 Pasal 1 Ayat 2 ditegaskan bahwa yang dimaksudkan dengan Sistem Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan yang berdasarkan pada pancasila dan UUD 1945. Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbale balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan  atau dikembangkan dengan jalan mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baik secara formal maupun secara informal.

  1. Pengertian tentang Landasan Kultural

Kebudayaan sebagai gagasan dan karya manusia beserta hasil budi dan karya itu akan selalu terkait dengan pendidikan, utamanya belajar. Kebudayaan dalam arti luas tersebut dapat berwujud :

  • Ideal seperti ide, gagasan, nilai, dan sebagainya.
  • Kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan
  • Fisik yakni benda hasil karya manusia.

Kebudayaan dapat dibentuk, dilestararikan,atau dikembangkan karena dan melalui pendidikan. Baik kebudayaan yang berwujud ideal, atau kelakuan dan teknologi, dapat diwujudkan melalui proses pendidikan. Dengan mempelajari tingkah laku yang dapat diterima dan kemudian menerapkan sebagai tingkah lakunya sendiri mrnjadikan anak sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu anak-anak harus diajarkan pola-pola tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat. Dengan kata lain, fungsi pokok setiap sistem pendidikan adalah untuk mengajarkan anak-anak pola-pola tingkah laku yang esensial.

Pada dasarnya ada tiga cara umum untuk mengajarkan tingkah laku yang dapat diidentifikasikan, yaitu :

  • Informal, terjadi dalam keluarga.
  • Nonformal, terjadi dalam masyarakat.
  • Formal, melibatkan lembaga khusus yang dibentuk untuk tujuan pendidikan.

Seperti yang diketahui pendidikan di Indonesia mengutamakan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan antara aspek pelestarian nilai-nilai luhur sosial-kebudayaan dan aspek pengembangan agar tetap jaya. Hal itu semakin penting apabila diingat bahwa teknologi komunikasi telah menyebabkan datangnya pengaruh kebudayaan dari luar semakin deras.

  1. Kebudayaan Nasional sebagai Landasan Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)

Pada awal perkembangannya, suatu kebudayaan terbentuk berkat kemampuan manusia mengatasi kehidupan alamiahnya dan kesenjangan manusia menciptakan lingkungan yang cocok bagi kehidupannya. Setiap individu yang lahir selalu memasuki lingkungan kebudayaan dan lingkungan alamiah itu, dan menghadapi dua sistem sekaligus yaitu sistem kebudayaan dan sistem sistem lingkungan alam.

Salah satu upaya penyesuain pendidikan jalur sekolah dengan keragaman latar belakang sosila budaya di Indonesia adalah dengan memberlakukan muatan lokal di dalam kurikulum sekolah, terutamanya di sekolah dasar (SD). Keragaman sosial budaya tersebut terwujud dalam keragaman adat istiadat, tata cara, dan tata karma pergaulan, kesenian, bahasa, dan sastra daerah, maupun kemahiran dan keterampilan yang tumbuh dan terpelihara di suatu daerah tertentu. Peserta didik diharapkan tidak hanya mengenal lingkungannya (alam, sosial, dan budaya) akan tetapi juga mau dan mampu mengembangkannya. Oleh karena itu, sebagai contoh, muatan lokal dalam kurikulum tidak hanya sekedar meneruskan minat akan kemahiran yang ada di daerah tertentu, tetapi juga serentak memperbaiki atau meningkatkannya sesuai dengan perkembangan iptek atau seni, dan atau kebutuhan masyarakat.

 

  1. Landasan Psikologis

Pengertian psikologi, menurut asal katanya psikologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Psyche dan Logos. Psyche berarti jiwa, sukma dan roh, sedangkan logos berarti ilmu pengetahuan atau studi. Jadi pengertian psikologi secara harfiah adalah ilmu tentang jiwa. Dengan pesatnya perkembangan teknologi dari ilmu pengetahuan, maka perubahan-perubahan pesat terjadi pula dalam bidang pendidikan. Kurikulum yang sering direvisi dalam pengembangannya, tujuan pendidikan sering mengalami perubahan dalam perumusannya, metode belajar mengajar sering mengalami perubahan dan pengembangan, dan sumber serta fasilitas belajar sering mengalami penambahan. Hal ini tidak terlepas dari peran pesatnya perkembangan teknologi. Hal tersebut dapat memancing berbagai macam tanggapan, apakah semua hal itu dapat mengganggu pelaksanaan aktivitas belajar sehingga akan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan peserta didik, dan akhirnya timbul kekhawatiran akan diabaikannya psikologi dalam pendidikan.
Untuk mengatasi kekhawatiran tersebut , maka diharapkan peserta didik dapat mempunyai tingkat keaktifan yang tinggi, baik itu secara fisiologis maupun psikologis. Dengan demikian psikologi tetap akan memperoleh tempat dalam dunia pendidikan.

Dalam situasi pendidikan Indonesia, khususnya pendidikan formal, tidak dapat dipungkiri adanya kenyataan bahwa sekolah-sekolah saat ini masih mengutamakan penguasaan mata pelajaran-mata pelajaran. Akibatnya guru dan murid masih dibatasi kebijakan dan pengawasan dari pihak pemerintah, sehingga keberhasilan pendidikan tidak pernah lepas dari keterampilan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Pendidikan Indonesia pada saat ini belum banyak memperhatikan minat dan kebutuhan peserta didik, melainkan pendidikan masih digumuli dengan masalah-masalah kompetensi lembaga pendidikan dengan pemenuhan kebutuhan dunia kerja akan tenaga kerja. Pemahaman pada peserta didik yang berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologi sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan.

Untuk itu psikologi menyediakan sejumlah informasi tentang kehidupan pribadi manusia pada umumnya serta berkaitan dengan aspek pribadi. Individu memiliki bakat, kemampuan, minat, kekuatan serta tempo, dan irama perkembangannya yang berbeda satu dengan yang lain. Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada setiap peserta didik, sekalipun mereka mungkin memiliki beberapa persamaan. Jika pendidik memberikan daya pikul yang sama terhadap semua peserta didiknya, maka justru dianggap mengingkari kodrat dan hakikat manusia (Mohammad Ali dan Moammad Asrori, 7). Penyusunan kurikulum perlu berhati-hati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar yang akan djadikan garis-garis besar program pengajaran serta tingkat keterincian bahan belajar yang digariskan.

Landasan psikologi pendidikan adalah suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan. Kajian psikologi yang erat hubungannya dengan pendidikan adalah yang berkaitan dengan kecerdasan, berpikir, dan belajar (Tirtaraharja, 2005: 106).

  1. Landasan Psikologi dalam Pendidikan

Landasan psikologi pendidikan merupakan salah satu landasan yang penting dalam pelaksanaan pendidikan karena keberhasilan pendidik dalam menjalankan tugasnya sangat dipengaruhi oleh pemahamannya tentang peserta didik. Keadaan anak yang tadinya belum dewasa hingga menjadi dewasa berarti mengalami perubahan, karena dibimbing, dan kegiatan bimbingan merupakan usaha atau kegiatan berinteraksi antara pendidik,anak didik dan lingkungan. Perubahan tersebut merupakan gejala yang timbul secara psikologis. Di dalam hubungan inilah kiranya pendidik harus mampu memahami perubahan yang terjadi pada diri individu, baik perkembangan maupun pertumbuhannya. Atas dasar itu pula pendidik perlu memahami landasan pendidikan dari sudut psikologis.

Dengan demikian, psikologi adalah salah satu landasan pokok dari pendidikan. Antara psikologi dengan pendidikan merupakan satu kesatuan yang sangat sulit dipisahkan. Subyek dan obyek pendidikan adalah manusia, sedangkan psikologi menelaah gejala-gejala psikologis dari manusia. Dengan demikian keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dalam proses dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan pendidikan peranan psikologi menjadi sangat mutlak. Analisis psikologi akan membantu para pendidik memahami struktur psikologis anak didik dan kegiatan-kegiatannya, sehingga kita dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan pendidikan secara efektif.

  1. Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis Pendidikan

Landasan psikologis mengandung makna norma dasar pendidikan yang bersumber dari hukum-hukum dasar perkembangan peserta didik.

Hukum-hukum dasar perkembangan peserta didik sejak proses terjadinya konsepsi sampai mati manusia akan mengalami perubahan karena bertumbuh dan berkembang. Pertumbuhan itu bersifat jasmaniah maupun kejiwaannya. Jadi, sepanjang kehidupan manusia terjadi proses pertumbuhan yang terus-menerus. Proses perubahan itu terjadi secara teratur dan terarah, yaitu ke arah kemajuan, bukan kemunduran. Tiap tahap kemajuan pertumbuhan ditandai dengan meningkatnya kemampuan dan cara baru yang dimiliki. Pertumbuhan merupakan peralihan tingkah laku atau fungsi kejiwaan dari yang lebih rendah kepada tingkat yang lebih tinggi. Perubahan-perubahan yang selalu terjadi itu dimaksudkan agar orang didalam kehidupannya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Lingkungan manusia terdiri dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fiik adalah segala sesuatu yang ada di sekitar anak yang non manusia; sedangkan lingkungan sosial adalah semua orang yang ada didalam kehidupan anak, yakni orang yang bergaul dengan anak, melakukan kegiatan bersama atau bekerja sama.

Tugas pendidikan yang terutama adalah memberikan bimbingan agar pertumbuhan anak dapat berlangsung secara wajar dan optimal. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan tentang hukum-hukum dasar perkembangan kejiwaan manusia agar tindakan pendidikan yang dilaksanakan berhasil guna dan berdaya guna. Beberapa hukum dasar yang perlu kita perhatikan dalam membimbing anak dalam proses pendidikan.

  1. Tiap-Tiap Anak Memiliki Sifat Kepribadian yang Unik

Anak didik merupakan pribadi yang sedang bertumbuh  dan berkembang. Di samping memiliki kesamaan-kesamaan, tentu masing-masing punya sifat yang khas, yang hanya dimiliki oleh diri masing-masing. Dikatakan, bahwa tiap-tiap anak memiliki sifat kepribadian yang unik; artinya anak memiliki sifat-sifat khas yang dimiliki oleh dirinya sendiri dan tidak dimiliki oleh anak lain.

Keunikan sifat pribadi seseorang itu terbentuk karena peranan tiga faktor penting, yakni: (1) keturunan/heredity, (2) lingkungan/environment, (3) diri/self.

  1. Faktor Keturunan

Sejak terjadinya konsepsi, yakni proses pembuahan sel telur oleh sel jantan, anak memperoleh warisan sifat-sifat pembawaan dari kedua orang tuanya yang merupakan potensi-potensi tertentu. Potensi ini relatif sudah terbentuk (fixed) yang sukar berubah baik melalui usaha kegiatan pendidikan maupun pemberian pengalaman. Beberapa ahli ilmu pengetahuan terutama ahli biologi menekankan pentingnya faktor keturunan ini bagi pertumbuhan fisik, mental, maupun sifat kepribadian yang diinginkan. Namun demikian, dalam lingkungan kehidupan manusia biasanya potensi individu juga merupakan masalah penting. Sedang para ahli ilmu jiwa yang menekankan pentingnya lingkungan seseorang dalam pertumbuhannya cenderung mengecilkan pengaruh pembawaan ini (naïve endowment). Mereka lebih menekankan pentingnya penggunaan secara berdaya guna pengalaman sosial dan edukasional agar seseorang dapat bertumbuh secara sehat dengan penyesuaian hidup secara baik.

  1. Faktor Lingkungan

Sebagaimana diterangkan di muka, lingkungan kehidupan itu terdiri dari lingkungan yang bersifat sosial dan fisik. Sejak anak dilahirkan bahkan ketika masih dalam kandungan ibu, anak mendapat pengaruh dari sekitarnya. Macam dan jumlah makanan yang diterimanya, keadaan panas lingkungannya dan semua kondisi lingkungan baik yang bersifat membantu pertumbuhan maupun yang menghambat pertumbuhan. Sama pentingnya dengan kondisi lingkungan anak yang berupa sikap, perilaku orang-orang di sekitar anak. Kebiasaan makan, berjalan, berpakaian, itu bukan pembawaan, melainkan hal-hal yang diperoleh dan dipelajari anak dari lingkungan sosialnya. Bahasa yang dipergunakan merupakan media penting untuk menyerap kebudayaan masyarakat dimana anak tinggal. Tidak saja makna hafiah kata yang terdapat dalam bahasa itu melainkan juga asosiasi perasaan yang menyertai kata dalam perbuatan.

  1. Faktor Diri

Faktor penting yang sering diabaikan dalam memahami prinsip pertumbuhan anak ialah faktor diri (self), yaitu faktor kejiwaan seseorang. Kehidupan kejiwaan itu terdiri dari perasaan, usaha, pikiran, pandangan, penilaian, keyakinan, sikap, dan anggapan yang semuanya akan berpengaruh dalam membuat keputusan tentang tindakan sehari-hari. Apabila dapat dipahami diri seseorang, maka dapat dipahami pola kehidupannya. Pengetahuan tentang pola hidup seseorang akan dapat membantu untuk memahami apa yang menjadi tujuan orang itu dibalik perbuatan yang dilakukan. Seringkali menginterpretasikan pengaruh pembawaan dan lingkungan secara mekanis tanpa memperhitungkan faktor lain yang tidak kurang pentingnya bagi pertumbuhan anak, yaitu diri (self). Memang pengaruh pembawaan dan lingkungan bagi pertumbuhan anak saling berkaitan dan saling melengkapi; tetapi masalah  pertumbuhan belum berakhir tanpa memperhitungkan peranan self, yakni bagaimana seseorang menggunakan potensi yang dimiliki dan lingkungannya. Di sinilah pemahaman tentang self atau pola hidup dapat membantu memahami seseorang. Self mempunyai pengaruh yang besar untuk menginterprestasikan kuatnya daya pembawaan dan kuatnya daya lingkungan. Contoh yang ekstrim ada anak yang cacat fisik, tetapi beberapa fungsinya tetap berdaya guna, sedang anak cacat yang lain menggunakan kecacatannya sebagai suatu alasan untuk ketidakmampuannya. Ini tidak lain karena peranan self. Self  berinteraksi dengan pembawaan dan lingkungan yang membentuk pribadi seseorang.

  1. Tiap Anak Memiliki Kecerdasan yang Berbeda-beda

Sebagaimana diterangkan di atas, sejak anak dilahirkan, mereka itu memiliki potensi yang berbeda-beda dan bervariasi. Pendidikan memberi hak  kepada anak untuk mengembangkan potensinya.

Jika diperhatikan,  setiap siswa – siswai memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, meskipun mereka mempunyai usai kalender yang sama, tetapi kemampuan mentalnya tidak sama. Dikatakan mereka memiliki usia kronologis yang sama, tetapi usia kecerdasan yang tidak sama. Jadi setiap anak memiliki indeks kecerdasan yang berbeda-beda. Indeks kecerdasan atau IQ diperoleh dari hasil membagi usia kecerdasan dengan usia kalender (usia senyatanya) dikalikan 100. Baik usia kecerdasan maupun usia kronologis (usia senyatanya) dinyatakan dalam satuan bulan. 

  1. Tiap Tahap Pertumbuhan Mempunyai Ciri-ciri Tertentu

Karena tiap tahap pertumbuhan itu memiliki ciri-ciri tertentu hal ini dapat membantu pendidik untuk mengatur strategi pendidikan dengan kesiapan anak muda untuk menerima, memahami dan menguasai bahan pendidikan sesuai dengan kemampuan. Jadi, strategi pendidikan untuk siswa Sekolah Taman Kanak-kanak akan berbeda dengan strategi yang diperuntukkan siswa Sekolah Dasar. Demikian juga dengan jenjang persekolahan yang lain.

  1. Peran Landasan Psikologis

Pengetahuan tentang psikologi diperlukan oleh dunia pendidikan karena dunia pendidikan menghadapi peserta didik yang unik dilihat dari segi karakteristik perilaku, kepribadian, sikap, minat, motivasi, perhatian, persepsi, daya pikir, inteligensi, fantasi, dan berbagai aspek psikologis lainnya yang berbeda antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lainnya. Perbedaan karakteristik psikologis yang dimiliki oleh para peserta didik harus diketahui dan dipahami oleh setiap guru atau instruktur yang berperan sebagai pendidik dan pengajar di kelas, jika ingin proses pembelajarannya berhasil.

Beberapa peran penting psikologi dalam proses pembelajaran adalah :

  1. Memahami siswa sebagai pelajar, meliputi perkembangannya, tabiat, kemampuan, kecerdasan, motivasi, minat, fisik, pengalaman, kepribadian, dan lain-lain
  2. Memahami prinsip – prinsip dan teori pembelajaran
  3. Memilih metode – metode pembelajaran dan pengajaran
  4. Menetapkan tujuan pembelajaran dan pengajaran
  5. Menciptakan situasi pembelajaran dan pengajaran yang kondusif
  6. Memilih dan menetapkan isi pengajaran
  7. Membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar
  8. Memilih alat bantu pembelajaran dan pengajaran
  9. Menilai hasil pembelajaran dan pengajaran
  10. Memahami dan mengembangkan kepribadian dan profesi guru
  11. Membimbing perkembangan siswa

Menurut Abimanyu (1996) mengemukakan bahwa peranan psikologi dalam pendidikan dan pengajaran ialah bertujuan untuk memberikan orientasi mengenai laporan studi, menelusuri masalah-masalah di lapangan dengan pendekatan psikologi serta meneliti faktor-faktor manusia dalam proses pendidikan dan di dalam situasi proses belajar mengajar. Psikologi dalam pendidikan dan pengajaran banyak mempengaruhi perumusan tujuan pendidikan, perumusan kurikulum maupun prosedur dan metode-metode belajar mengajar. Psikologi ini memberikan jalan untuk mendapatkan pemecahan atas masalah-masalah sebagai berikut:

  1. Perubahan yang terjadi pada anak didik selama dalam proses pendidikan
  2. Pengaruh pembawaan dan lingkungan atas hasil belajar
  3. Teori dan proses belajar
  4. Hubungan antara teknik mengajar dan hasil belajar.
  5. Perbandingan hasil pendidikan formal dengan pendidikan informal atas diri  individu.
  6. Pengaruh kondisi sosial anak didik atas pendidikan yang diterimanya.
  7. Nilai sikap ilmiah atas pendidikan yang dimiliki oleh para petugas pendidikan.
  8. Pengaruh interaksi antara guru dan murid dan antara murid dengan murid.
  9. Hambatan, kesulitan, ketegangan, dan sebagainya yang dialami oleh anak didik selama proses pendidikan
  10. Pengaruh perbedaan individu yang satu dengan individu yang lain dalam batas kemampuan belajar

 

  1. Landasan Ilmiah dan Teknologi

Dalam dunia pendidikan IPTEK menjadi bagian penting dalam isi pengajaran, dengan kata lain perkembangan pendidikan dan teknologi berjalan secara berkesinambungan. Pengembangan dan pemanfaatan iptek pada umumnya ditempuh melalui rangkaian kegiatan, seperti penelitian dasar, penelitian terapan, dan pengembangan teknologi serta biasanya diikuti pula dengan evaluasi ethis-politis-religius. Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah harus mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan IPTEK. Bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran harusnya hasil dari perkembangan IPTEK mutakhir.

  1. Pengertian tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Terdapat beberapa istilah yang perlu dikaji agar jelas makna dan kedudukan masing-masing yakni pengetahuan, ilmu pengetahuan, teknologi. Pengetahuan (knowledge) adalah segala sesuatu yang diperoleh melalui berbagai cara pengindraan terhadap fakta, penalaran (rasio), intuisi, dan wahyu. Pengetahuan yang telah memenuhi kriteria dari segi ontologism, epistomologis, dan aksiologis secara konsekuen biasa disebut ilmu. Dengan demikian pengetahuan mencakup berbagai cabang ilmu. Oleh karena itu, istilah ilmu atau ilmu pengetahuan dapat bermakna kumpulan informasi, cara memperoleh informasi serta manfaat dari informasi itu sendiri. Ketiga sisi ilmu tersebut seharusnya mendapatkan perhatian yang proporsional dalam penentuan bahan ajaran, dengan demikian pendidikan bukan hanya berperan dalam pewarisan iptek tetapi juga ikut menyiapkan manusia yang sadar IPTEK dan calon pakar IPTEK.

  1. Perkembangan Iptek sebagai Landasan Ilmiah

Iptek merupakan salah satu hasil dari usaha manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang telah dimulai pada permulaan kehidupan manusia. Bukti historis menunjukkan bahwa usaha mula bidang keilmuan yang tercatat adalah oleh bangsa Mesir purba, dimana banjir tahunan sungai Nil menyebabkan berkembangnya system almanak, geometri dan kegiatan survey.

Seperti diketahui, beberapa tahun terakhir disekolah telah digalakkan pelaksanaan cara belajar siswa aktif dengan pendekatan keterampilan proses. Beberapa keterampilan dbentuk sedini munkin mulai dari sekooah dasar (SD), seperti: Observasi, perhitungan, pengukuran, klasifikasi, mencari hubungan ruang/waktu, pembuatan hipotesis, perencanaan penelitian (utamanya eksperimen), pengendalian variabel, interpretasi data, kesimpulan sementara (inferensi), peramalan, penerapan dan komunikasi (Conny Semiawan, et. Al., 1985:18-33). Pembentukan keterampilan dan sikap ilmiah mungkin tersebut secara serentak akan meletakkan dasar terbentuknya masyarakat yang sadar iptek dan calon-calon pakar iptek kelak kemudian hari.

 

  1. Fungsi Landasan Pendidikan Indonesia

Makna fungsi berkaitan dengan manfaat. Adapun manfaat calon pendidik mempelajari landasan pendidikan diantaranya :

  1. Mengetahui berbagai konsep, prinsip dan teori pendidikan dalam melaksanakan praktek pendidikan.
  2. Mempunyai sikap kritis terhadap pandangan-pandangan teori pendidikan.
  3. Memberikan kontribusi pada pola pikir dan pola kerja calon pendidikan.
  4. Lebih meyakini tentang konsep, prinsip dan teori pendidikan dalam pelaksanaan pendidikan.
  5. Memiliki kesiapan studi pendidikan lebih lanjut.
  6. Mampu menerapkan landasan pendidikan sesuai dengan teori yang telah dijabarkan.
  7. Menjadi tenaga pendidik Indonesia yang berlandaskan Pancasila.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 ~Semoga Bermanfaat 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s